Pembelajaran Role Playing
Pembelajaran role playing adalah metode pembelajaran di mana siswa langsung memerankan suatu masalah yang memfokuskan pada masalah-masalah tentang hubungan manusia. Siswa diberikan kesempatan untuk menggambarkan atau mengekspresikan suatu tokoh yang diperankan dan siswa-siswa lainnya mendapat tugas untuk mengamati tentang jalannya drama. Pada bagian tertentu misalnya di bagian tengah, guru dapat menghentikan drama dan memberi kesempatan pada siswa-siswa untuk mengeluarkan pendapat serta kritik mengenai materi pembelajaran yang sedang dipelajari.
Djamarah (2010), yang mengatakan bahwa model role playing (bermain peran) dapat dikatakan sama dengan Sosiodrama, yang pada dasarnya mendramatisasikan tingkah laku dalam hubungannya dengan masalah sosial. Bermain peran atau role playing pada prinsipnya merupakan pembelajaran dengan menghadirkan peran-peran yang ada dalam dunia nyata ke dalam suatu pertunjukan peran di dalam kelas yang kemudian dijadikan sebagai bahan refleksi agar siswa dapat memberikan penilaian terhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan dan kemudian memberikan saran/ alternatif pendapat bagi pengembangan peran-peran tersebut.
Keunggulan model pembelajaran role playing menurut Djamarah (2010), antara lain:
1. Siswa dapat melatih diri untuk memahami dan mengingat isi bahan yang akan didramakan.
2. Siswa menjadi terlatih untuk berinisiatif dan berkreatif.
3. Bakat yang ada dalam diri siswa dalam bidang bermain peran dapat dipupuk sehingga memungkinkan berkembangnya seni drama dari sekolah.
4. Melatih kerja sama antar pemeran drama sehingga dapat ditumbuhkan dan dibina dengan sebaik-baiknya.
5. Siswa memiliki kebiasaan untuk menerima dan berbagi tanggung jawab dengan sesamanya.
6. Bahasa lisan siswa dapat dibina atau dilatih menjadi bahasa yang baik agar mudah dipahami orang lain.
Kelemahan dari model pembelajaran role playing antara lain:
1. Tidak semua siswa dapat terlibat dan memiliki pengalaman bermain drama sehingga dikhawatirkan mereka menjadi kurang kreatif.
2. Membutuhkan waktu yang panjang baik untuk persiapan dalam rangka pemahaman isi bahan pelajaran maupun pelaksanaan pertunjukan. Padahal waktu pembelajaran sangat terbatas.
3. Memerlukan tempat yang cukup luas dan memadai. Sedangkan ukuran ruangan kelas relatif kecil sehingga menjadi kurang leluasa dan kurang bebas.
4. Kelas lain bisa saja terganggu oleh suara pemain dan para penonton yang bertepuk tangan atau berteriak memberikan dukungan, apresiasi, dan sebagainya.
Langkah-Langkah Model Pembelajaran Role Playing
1. Persiapan atau pemanasan
2. Memilih pemain/pemeran drama
3. Mendekorasi panggung (ruang kelas)
4. Menunjuk siswa menjadi pengamat (observer)
5. Memainkan peran
6. Diskusi dan evaluasi
7. Bermain peran ulang
8. Diskusi dan evaluasi
9. Berbagi pengalaman dan Menyimpulkan
Komentar
Posting Komentar