Udah Waktunya Kita Berhenti Minder!!
Kapan terakhir kamu melakukan sesuatu tanpa merasa minder?
Kapan terakhir kali kamu merasa pantas?
Minder adalah rasa kurang percaya pada kemampuan diri sendiri. Kurangnya rasa percaya diri menimbulkan efek yang begitu besar. Sehingga muncullah perspektif-perspektif buruk yang bahkan belum terjadi. Merasa minder merupakan sifat manusiawi. Semua orang pasti punya kelemahan yang membuat dirinya minder. Namun tidak seharusnya kita terlalu terpuruk dalam rasa minder itu!!
Penyebab minder bisa jadi karena merasa rendah diri, merasa dirinya tidak bisa apa-apa, merasa orang lain yang bisa melakukannya. Dia memandang dirinya sebagai pribadi yang memiliki kelemahan yang begitu besar, tidak ada rasa percaya diri di dalamnya.
Hampir dari kita semua tidak pernah diajarkan untuk percaya diri dan berkomunikasi. Mau di rumah, bahkan di sekolah kebanyakan kita belajar biologi, fisika, matematika dll. Makanya ketika kita terjun ke kehidupan tidak sedikit dari kita yang kesulitan, karena dari kita tidak tahu cara berkomunikasi yang baik. Salah satunya kurang percaya diri ketika mengutarakan apa yang kita pikirkan dan yang kita rasakan. Salah satu penyebabnya adalah mereka tidak yakin pendapat mereka akan di dengar oleh orang lain, jadinya apa yang mau kita bicarakan di telan lagi karena takut diabaikan oleh orang lain.
Sampai sini mungkin kalian penasaran kenapa hal ini bisa terjadi?
Salah satu penyebabnya adalah bagaimana seseorang memandang keberhargaan diri mereka. Dalam Bahasa psikologinya yaitu “self-esteem”. Self-esteem berpengaruh kepada seberapa baik seseorang dalam mengungkapkan pendapat serta perasaannya secara jelas, sambal memperhatikan dan menghormati lawan bicaranya. Kemampuan tersebut sering disebut kemampuan komunikasi asertif.
Ketika individu mempunyai self-esteem yang baik maka dia akan cenderung percaya diri buat menyampaikan pendapatnya. Mereka bisa di prediksi lebih baik menghadapi situasi lebih baik dimana pendapatnya itu tidak diterima oleh orang lain tanpa merasa “ok aku lebih rendah” intinya tanpa merasa terancam. Sebaliknya orang yang memandang dirinya rendah juga cenderung berpandangan demikian, ngerasa terancam, belum apa-apa udah beropini pendapat saya jelek, negatif, tidak layak buat di dengerin. Jadinya mereka gak enakan cenderung tidak mau mengungkapkan pendapat mereka. Yang menarik adalah ternyata komunikasi asertif ini juga bisa balik memengaruhi tingkat self-esteem seseorang. Jadi, bukan self-esteem ngaruh ke komunikasi nya tapi juga sebaliknya jadi ketika kita mencoba untuk berkomunukasi asertif itu juga akan buat kita menjadi lebih percaya diri. Jadi, dua faktor ini saling memengaruhi bisa jadi kita bisa menjadi lebih asertif dengan self-esteemyang baik, sebaliknya dengan menjadi asertif kita bisa meningkatkan self-esteem kita. Sebenarnya kita bisa milih mau meningkatkan yang mana, apakah mau meningkatkan sel-esteem biar bisa lebih percaya diri atau juga bisa pilih untuk jadi lebih asertif dalam berkomunikasi, lambat laun kita juga akan semakin percaya diri dalam berkomunikasi Bersama orang lain. Menurut saya memang lebih menyarankan untuk komunikasi asertif, kenapa? Karena hal ini bisa dibilang lebih konkrit dan lebih mudah buat kita kontrol. Maksudnya kita bisa latih setiap hari dan ini tuh untuk ngelatih komunikasi asertif untuk menerapkannya itu lebih praktis daripada ketika kita berusaha untuk membangun kepercayaan diri kita dulu.
Nah, sekarang pertanyaannya bagaimana caranya buat jadi lebih asertif dalam komunikasi sehari-hari?
Ada sebuah rumus namanya A.S.S.E.R.T. ini dipake oleh salah satu badan konseling di Inggris di mulai dari:
1. A-Attention
Jadi, kalo kita mau menyampaikan sesuatu kepada orang lain, pastikan kalua mereka memperhatikan dan mendengarkan kita. Maknya kita harus mastiin kapan dan dimana waktu yang tepat dan dengan cara apa orang itu bisa focus buat dengerin kita secara maksimal.
2. S-Soon
Jadi, kalo misalnya kita mau speak up karena ngerasa diperlakuin kurang enak harusnya sampaikan secara langsung setelah kejadiannya.
3. S-Specific Behavior
Dalam menyampaikan pendapat, pastikan focus kepada perilaku, bukan dengan orangnya. Jadi, kasih tau sejelas mungkin kelakuan apa yang ingin kita feedback, pas kapan dan dimana dan bagaimana. Contohnya: kalo kesel misalnya kita membuat jadi dengan temen terus dia telat kita bisa bilang “eh falni sebenarnya saya kurang suka nih kalo misalnya kamu dating telat pas rapat kaya tadi kan udah janjian jam 10.00 WIB tapi kamu baru datang jam 11.00 WIB”. Nah itu kan jelas kaya kita itu nge feedback perilakunya.
4. E-Effect on Me
Kita bisa kasih tau apa yang kita rasakan dari perilaku atau sesuatu yang kita sebut di poin sebelumnya. Contohnya kaya tadi, ketika kita melihat orang telat kita bisa nyambung, jadi dengan kamu telat kaya tadi itu membuat saya menunggu lebih lama, terus juga dengan mualinya telat rapatnya juga jadi tidak efektif. Jadi orang juga ngerti bahwa “oh perilaku saya buruk berarti” dan ini jadi masalah buat kita.
5. R-Response
Setelah kita kasih tau apa perilaku atau kejadian yang tidak enak lengkap dengan dampaknya juga terhadap kita. Kita deskripsikan apa yang kita inginkan berikutnya, biar mereka juga tau kedepannya baiknya kaya gimana, apa yang harus di evaluasi? Missal kasus tadi yang telat “nex time kalo bisa kamu dating minimal 5 menit sebelum rapat dimulai atau bisa kasih kabar”. Jadi awal-akhir sudah jelas dan tidak menyinggung juga perilakunya yang disinggung dan memang itu yang harus kita fokuskan.
6. T-Terms
Buatlah kesepakatan mengenai apa yang kita tawarkan tadi. Mungkin kita jadi sepakat buat nex time tidak ada yang telat. Atau kalaupun bicara kita tidak sepakat dan dianya nawarin kompromi seengganya kita sudah menyampaikan apa yang menjadi tujuan. Jadi di akhir itu bertanya menurut kamu baik nya gimana? Biasanya memang di poin akhir ini orang kalo salah setuju aja sama kita dan itu bisa membuat kita lebih baik dalam hubungan kerja kedepannya.
Kurang lebih begitu beberapa cara yang bisa kita coba supaya lebih asertif dalam berkomunikasi sehari-hari. Kedengerannya memang sederhana tapi realitanya mungkin banyak orang kesusahan dan ini wajar mungkin kita belum terbiasa atau susah.
Komentar
Posting Komentar